PEKALONGAN, LAMBEUMPRES.COM – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap siswa kelas 9 SMPN 6 Kota Pekalongan berinisial AFF atau F (15) hingga mengalami koma mulai menemukan titik terang. Insiden tersebut diduga dipicu persoalan pergaulan dan asmara antarsiswa.
Korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Bendan, Kota Pekalongan, akibat luka serius yang dialaminya.
Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala Sekolah Ikasari Dewi, membenarkan adanya insiden kekerasan tersebut saat ditemui di RSUD Bendan.
Menurut Qurratiani, berdasarkan klarifikasi awal sekolah, persoalan bermula dari hubungan pertemanan antara siswa dan lawan jenis yang kemudian berkembang menjadi perselisihan.
Korban diketahui memiliki teman dekat perempuan berinisial R. Namun, R disebut masih memiliki persoalan dengan mantan pacarnya yang duduk di kelas 8.
“Di situ biasa mungkin ada gejolak-gejolak rasa suka yang masih belum move on, yang satunya ingin memiliki,” ujar Qurratiani.
Persoalan tersebut kemudian berlanjut melalui komunikasi di media sosial. Dari komunikasi itu, muncul persoalan yang membuat salah satu siswa merasa terancam dan kemudian menceritakan hal tersebut kepada temannya.
Perselisihan yang awalnya terjadi melalui media sosial kemudian berujung pada kontak fisik antarsiswa di lingkungan sekolah saat jam istirahat.
Sekolah Panggil Siswa dan Orang Tua
Pihak sekolah mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima laporan dari orang tua korban. Laporan disampaikan pada Kamis sore setelah F pulang sekolah dalam kondisi mengalami luka fisik.
“Dengan adanya laporan ini ada ananda bernama F yang kebetulan dipukul oleh temannya, dua temannya, di saat jam istirahat sekolah. Setelah pulang sekolah, orang tuanya mengonfirmasi ke kami dan ada luka fisik,” jelas Qurratiani.
Setelah menerima laporan, pihak SMPN 6 Pekalongan langsung memanggil siswa yang terlibat beserta orang tua atau wali mereka untuk dilakukan klarifikasi.
Qurratiani menegaskan, keselamatan dan kondisi korban menjadi prioritas utama sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga masih melakukan penelusuran untuk mengetahui secara utuh rangkaian peristiwa yang menyebabkan terjadinya kekerasan tersebut.
“Prioritas saat ini keselamatan anak. Yang kedua, ini tahapan kami adalah mengonfirmasi semua orang-orang atau anak-anak yang kebetulan menjadi trigger kejadian ini,” katanya.
Pihak sekolah juga telah mengundang siswa yang terlibat dalam perselisihan maupun siswa yang melakukan kontak fisik dengan korban bersama orang tua masing-masing.
Salah Satu Terduga Pelaku Berprestasi di Bela Diri
Dalam kasus tersebut, salah satu siswa yang diduga terlibat diketahui memiliki prestasi di bidang bela diri taekwondo.
“Ya kebetulan anak itu (pelaku) punya prestasi memang di bidang bela diri,” ungkap Qurratiani.
Meski demikian, pihak sekolah masih melakukan klarifikasi terhadap seluruh siswa yang terlibat untuk memastikan kronologi kejadian secara menyeluruh.
Hingga kini, F masih mendapatkan perawatan intensif di RSUD Bendan Pekalongan. Pihak sekolah menyatakan akan terus memantau kondisi korban serta melakukan penanganan terhadap persoalan antarsiswa tersebut sesuai prosedur sekolah.
Sumber: detik.com






